Pengertian Manusia Sebagai Makhluk Sosial dan Berbudaya
3/27/2014
a. Pengertian
dan Definisi Manusia Menurut Para Ahli
Manusia atau orang dapat diartikan
berbeda-beda dari segi biologis, rohani, dan istilah kebudayaan,
atau secara campuran. Secara biologis, manusia diklasifikasikan sebagai Homo
sapiens (Bahasa Latin yang berarti “manusia yang tahu”), sebuah
spesies primata dari golongan mamalia yang
dilengkapi otak berkemampuan tinggi. Dalam hal kerohanian, mereka
dijelaskan menggunakan konsep jiwa yang bervariasi di mana,
dalam agama, dimengerti dalam hubungannya dengan kekuatan ketuhanan
atau makhluk hidup; dalam mitos, mereka juga seringkali dibandingkan
dengan ras lain. Dalam antropologi kebudayaan, mereka dijelaskan
berdasarkan penggunaan bahasanya, organisasi mereka dalam
masyarakat majemuk serta perkembangan teknologinya, dan terutama
berdasarkan kemampuannya untuk membentuk kelompok dan lembaga untuk
dukungan satu sama lain serta pertolongan.
Penggolongan manusia yang paling
utama adalah berdasarkan jenis kelaminnya. Secara alamiah, jenis kelamin
seorang anak yang baru lahir entah laki-laki atau perempuan.
Anak muda laki-laki dikenal sebagai putra dan laki-laki dewasa
sebagai pria. Anak muda perempuan dikenal sebagai putri dan
perempuan dewasa sebagai wanita.
Penggolongan lainnya adalah
berdasarkan usia, mulai
dari janin, bayi, balita, anak-anak, remaja, akil
balik, pemuda/i, dewasa, dan (orang) tua.
Manusia adalah mahluk yang luar biasa
kompleks. Kita merupakan paduan antara mahluk material dan mahluk spiritual.
Dinamika manusia tidak tinggal diam karena manusia sebagai dinamika selalu
mengaktivisasikan dirinya.
Berikut ini adalah pengertian dan
definisi manusia menurut beberapa ahli:
NICOLAUS D. & A. SUDIARJA
Manusia adalah bhineka, tetapi tunggal. Bhineka karena ia adalah jasmani dan
rohani akan tetapi tunggal karena jasmani dan rohani merupakan satu barang
ABINENO J. I
Manusia adalah “tubuh yang berjiwa” dan bukan “jiwa abadi yang berada atau yang terbungkus dalam tubuh yang fana”
Manusia adalah “tubuh yang berjiwa” dan bukan “jiwa abadi yang berada atau yang terbungkus dalam tubuh yang fana”
UPANISADS
Manusia adalah kombinasi dari unsur-unsur roh (atman), jiwa, pikiran, dan prana atau badan fisik
Manusia adalah kombinasi dari unsur-unsur roh (atman), jiwa, pikiran, dan prana atau badan fisik
SOKRATES
Manusia adalah mahluk hidup berkaki dua yang tidak berbulu dengan kuku datar dan lebar
Manusia adalah mahluk hidup berkaki dua yang tidak berbulu dengan kuku datar dan lebar
KEES BERTENS
Manusia adalah suatu mahluk yang terdiri dari 2 unsur yang kesatuannya tidak dinyatakan
Manusia adalah suatu mahluk yang terdiri dari 2 unsur yang kesatuannya tidak dinyatakan
I WAYAN WATRA
Manusia adalah mahluk yang dinamis dengan trias dinamikanya, yaitu cipta, rasa dan karsa
Manusia adalah mahluk yang dinamis dengan trias dinamikanya, yaitu cipta, rasa dan karsa
OMAR MOHAMMAD AL-TOUMY AL-SYAIBANY
Manusia adalah mahluk yang paling mulia, manusia adalah mahluk yang berfikir, dan manusia adalah mahluk yang memiliki 3 dimensi (badan, akal, dan ruh), manusia dalam pertumbuhannya dipengaruhi faktor keturunan dan lingkungan
Manusia adalah mahluk yang paling mulia, manusia adalah mahluk yang berfikir, dan manusia adalah mahluk yang memiliki 3 dimensi (badan, akal, dan ruh), manusia dalam pertumbuhannya dipengaruhi faktor keturunan dan lingkungan
ERBE SENTANU
Manusia adalah mahluk sebaik-baiknya ciptaan-Nya. Bahkan bisa dibilang manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna dibandingkan dengan mahluk yang lain
Manusia adalah mahluk sebaik-baiknya ciptaan-Nya. Bahkan bisa dibilang manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna dibandingkan dengan mahluk yang lain
PAULA J. C & JANET W. K
manusia adalah mahluk terbuka, bebas memilih makna dalam situasi, mengemban tanggung jawab atas keputusan yang hidup secara kontinu serta turut menyusun pola berhubungan dan unggul multidimensi dengan berbagai kemungkinan
manusia adalah mahluk terbuka, bebas memilih makna dalam situasi, mengemban tanggung jawab atas keputusan yang hidup secara kontinu serta turut menyusun pola berhubungan dan unggul multidimensi dengan berbagai kemungkinan
b. Pengertian Budaya dan
Kebudayaan
Kata budaya merupakan
bentuk majemuk kata budi-daya yang berarti cipta, karsa, dan rasa. Sebenarnya
kata budaya hanya dipakai sebagai singkatan kata kebudayaan, yang berasal dari
Bahasa Sangsekerta budhayah yaitu bentuk jamak dari budhi yang berarti budi
atau akal. Budaya atau kebudayaan dalam Bahasa Belanda di istilahkan dengan
kata culturur. Dalam bahasa Inggris culture. Sedangkan dalam bahasa Latin dari
kata colera. Colera berarti mengolah, mengerjakan, menyuburkan, dan
mengembangkan tanah (bertani). Kemudian pengertian ini berkembang dalam arti
culture, yaitu sebagai segala daya dan aktivitas manusia untuk mengolah dan
mengubah alam.
Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan
dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke
generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama
dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya
seni.
Budaya sendiri adalah seni yang dibuat manusia dalam
menata kehidupannya manusia itu sendiri serta kehidupan bermasyarakat. Budaya
merupakan warisan yang diwariskan secara turun temurun namun, budaya di
lingkungan masyarakat mengajarkan kita hal-hal yang baik serta hal yang
dilarang untuk dilakukan. Agama dan budaya memiliki perbedaan yakni agama
adalah keyakinan dan hak setiap individu untuk memeluknya. agama mengajarkan
manusia kebajikan, tetapi semua orang pasti berpegang teguh pada agamanya
sedangkan budaya belum tentu semua orang akan suka dan masuk pada budaya
tersebut. Contohnya, budaya orang Jawa akan jauh berbeda dengan budaya orang
Irian dan Papua.
Kebudayaan adalah
sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau
gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan
sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan
adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya,
berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola
perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain,
yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan
bermasyarakat.
Beberapa definisi tentang kebudayaan
dari beberapa para ahli :
1.Edward B. Taylor
Kebudayaan merupakan keseluruhan yang
kompleks, yang didalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral,
hukum, adapt istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat oleh seseorang
sebagai anggota masyarakat.
2. Koentjaraningrat
Kebudayaan adalah keseluruhan sistem
gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat
yang dijadikan milik diri manusia dengan relajar.
3.Ki Hajar Dewantara
Kebudayaan berarti buah budi manusia
adalah hasil perjuangan manusia terhadap dua pengaruh kuat, yakni zaman dan
alam yang merupakan bukti kejayaan hidup manusia untuk mengatasi berbagai
rintangan dan kesukaran didalam hidup dan penghidupannya guna mencapai
keselamatan dan kebahagiaan yang pada lahirnya bersifat tertib dan damai
Manusia adalah makhluk yang paling sempurna
bila dibanding dengan makhluk lainnya, mempunyai kewajiban dan tanggung jawab
untuk mengelola bumi. Oleh karena itu manusia harus menguasai segala sesuatu
yang berhubungan dengan kepemimpinannya di muka bumi disamping tanggung jawab
dan etika moral harus dimiliki, menciptakan nilai kebaikan, kebenaran, keadilan
dan tanggung jawab agar bermakna bagi kemanusiaan. Selain itu manusia juga
harus mendayagunakan akal budi untuk menciptakan kebahagiaan bagi semua makhluk
Tuhan.
2. Studi Kasus
2. Studi Kasus
Budaya Kekerasan dan Peace
Education
Kasus penyerbuan Jamaah Ahmadiyah di Cikeusik Pandeglang Banten, Minggu (6/2), serentak mendapat respon luar biasa dari media. Hampir sepekan pasca kejadian, media cetak maupun elektronik dipenuhi dengan berita kasus tersebut. Banyak pakar dan analis diundang media televisi untuk tampil langsung membahas kasus itu, mulai dari agamawan, kepolisian, anggota dewan, aktivis kemanusiaan, hingga pengamat politik.
Kasus penyerbuan Jamaah Ahmadiyah di Cikeusik Pandeglang Banten, Minggu (6/2), serentak mendapat respon luar biasa dari media. Hampir sepekan pasca kejadian, media cetak maupun elektronik dipenuhi dengan berita kasus tersebut. Banyak pakar dan analis diundang media televisi untuk tampil langsung membahas kasus itu, mulai dari agamawan, kepolisian, anggota dewan, aktivis kemanusiaan, hingga pengamat politik.
Muncul beragam pendapat mengenai
kasus tersebut, ada yang mengatakan bahwa kasus itu dikarenakan kurang sigapnya
aparat kepolisian yang terkesan membiarkan terjadinya tindak kekerasan. Ada
pula yang menyebut, akibat dari SKB (Surat Keputusan Bersama) tiga menteri yang
masih kurang tegas dan terkesan ”banci”. Ada juga yang mensinyalir bahwa kasus
itu dikarenakan provokator beberapa orang dari kelompok ormas keagamaan yang
sudah lama menginginkan Jamaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) dibubarkan.
Tentu masih banyak pendapat lain untuk menilai dan mencoba mencari solusi atas
kasus tersebut. Namun yang menarik untuk didiskusikan lebih dalam lagi adalah
tentang jawaban dari pertanyaan, mengapa penyerbuan anggota JAI itu terulang
lagi?. Dengan kata lain, bahwa kejadian di Cikeusik bukan berdiri sendiri,
karena jelang sepekan kemudian juga terjadi di Temanggung. Kasus yang dialami
anggota JAI itu, hampir terjadi berulang dalam setiap tahunnya, bak kasus
tahunan. SETARA Institute mencatat, aksi kekerasan terhadap JAI pada tahun 2007
terjadi 15 kasus, pada tahun 2008 sebanyak 238 kasus, pada 2009 ada 33
kasus. Terjadi di berbagai daerah, seperti Kuningan, Bogor, Tasikmalaya, dan
Garut.
Kalau dilihat dari kejadiannya yang
berlangsung beulang-ulang, hampir dalam setiap tahunnya, terjadi merata di
berbagai daerah, maka dapat dikatakan bahwa menyerbu, menyerang, ngeluruk,
menyegel, melempari, membakar, bahkan membunuh adalah sudah menjadi budaya di
masyarakat saat ini. Artinya, kekerasan sebagai alat untuk menyelesaikan
masalah di masyarakat akar rumput telah menjadi pilihan yang sepertinya absah.
Pernyataan ini tentu tidak berlebihan, apabila dikaitkan dengan
beberapa kasus selain JAI. Tidak lama pasca kejadian penyerbuan yang berujuang
pembunuhan tiga orang anggota JAI di Cikeusik, Selasa (15/2) Pesantren YAPI di
Bangil Pasuruan diserang dan dilempari batu oleh ratusan orang tidak dikenal.
Isu yang berkembang, bahwa motiv penyerangan itu ditengarai karena perbedaan
paham. Hampir sama dengan kasusnya JAI.
Di luar kasus yang bersifat agama,
kita juga dapat melihat kasus-kasus kekerasan yang hampir merata terjadi di
semua daerah. Seperti dalam pelaksanaan Pemilukada (Pemilihan Umum Daerah),
selalu saja berujung dengan kekerasan fisik antar pendukungcalon. Pendukung
dari pasangan yang kalah mendatangi KPUD (Komisi Pemilihan Umum Daerah)
menuntut pilihan ulang atau penghitungan ulang karena Pemilukada dianggap
curang, dan alasan lain. Kalau tuntutannya tidak dikabulkan KPUD setempat,
mereka tidak segan untuk membakar kantor KPUD.
2.1 Pembahasan
Mengenai budaya kekerasan, menarik apa yang disampaikan James Q. Wilson dan
George Kelling dengan teorinya “broken windows”. Wilson dan Kelling
berpendapat, bahwa kriminalitas merupakan akibat tak terelakkan dari ketidak
teraturan. Diilustrasikan dengan sebuah jendela rumah pecah dan dibiarkan saja,
siapapun yang lewat cenderung menyimpulkan bahwa rumah itu tidak ada yang
peduli serta rumah itu dianggap tidak berpenghuni. Dalam waktu singkat akan ada
lagi jendelanya yang pecah, dan akhirnya berkembang menjadi anarkhi yang
menyebar ke sekitar tempat itu. (Malcolm Gladwell; 2003).
Memakai teori “broken windows”
Wilson dan Kelling, untuk melihat kasus-kasus kekerasan yang terjadi belakangan
ini, dapat memberikan pengertian bahwa setiap aksi kekerasan selalu saja
berbuntut dan berulang dalam waktu yang tidak lama. Sangat mudah menyebar dan
cepat menjalar terjadi di daerah-daerah lain. Persis sama dengan kasus
penyerangan anggota JAI, yang dimulai dari kasus Cikeusik, selang waktu tidak
lama juga terjadi di Temanggung. Tidak lama kemudian kasus yang sama juga terjadi
di Bangil Pasuruan, tetapi kali ini bukan JAI, melainkan Pesantren YAPI.
Kasus kekerasan yang telah berkembang
dan mendarah daging dalam lingkungan masyarakat kita patut untuk diwaspadai.
Karena masyarakat kita telah latah atau ikut-ikutan menuruti hawa nafsu mereka
tanpa mereka pikirkan dengan masak-masak.
Jika ingin menyelesaikan
persoalan janganlah menggunakan sistem kekerasan karena ini dapat menimbulkan
banyak masalah dan berdampak buruk bagi masyarakat.
Pemerintah dapat mengurangi aksi
kekerasan jika ketat mengawasi massa yang bertindak anarkis serta memberikan
Peace Education untuk memberi kesadaran kepada masyarakat bahwa cara terbaik
untuk mencari solusi atas masalah dengan jalan damai tanpa menggunakan jalan
kekerasan yang akhirnya memberi kerugian pada semua masyarakat.
Masyarakat akan jauh senang menerima
tindakan baik dan damai sehingga tidak ada lagi perselisihan antara kubu
masyarakat.
3. Kesimpulan
Manusia dan kebudayaanmerupakan salah satu ikatan yang tak bisa dipisahkan
dalam kehidupan ini. Manusia sebagai makhluk Tuhan yang paling sempurna
merupakan makhluk yang memiliki budaya. Manusia dapat menciptakan kebudayaan
mereka sendiri dan melestarikannya secara turun menurun. Kebudayaan merupakan
warisan yang ampuh dalam sejarah kehidupan manusia yang dapat berkembang dan
dikembangkan melalui sikap-sikap budaya yang mampu mendukungnya dengan baik.
Kata budaya merupakan bentuk majemuk kata budi-daya yang
berarti cipta, karsa, dan rasa. Sebenarnya kata budaya hanya dipakai sebagai
singkatan kata kebudayaan, yang berasal dari Bahasa Sangsekerta budhayah.
Budaya atau kebudayaan dalam Bahasa Belanda di istilahkan dengan kata culturur.
Dalam bahasa Inggris culture. Sedangkan dalam bahasa Latin dari kata colera.
Colera berarti mengolah, mengerjakan, menyuburkan, dan mengembangkan tanah
(bertani). Kemudian pengertian ini berkembang dalam arti culture, yaitu sebagai
segala daya dan aktivitas manusia untuk mengolah dan mengubah alam.
Berbudaya, selain didasarkan pada
etika juga mengandung estetika di dalamnya. Etika disini menyangkut analisis
dan penerapan konsep seperti benar, salah, baik, buruk, serta tanggung jawab.
Sedangkan estetika menyangkut pembahasan keindahan, yaitu bagaimana sesuatu
bisa terbentuk dan bagaimana seseorang bisa merasakannya.
Sumber : http://kafeilmu.com/2011/03/budaya-kekerasan-dan-peace-education.html
http://tugastugas.tumblr.com/post/36506068556/softskill-manusia-sebagai-makhluk-sosial-dan
http://tugastugas.tumblr.com/post/36506068556/softskill-manusia-sebagai-makhluk-sosial-dan
Copyright : @bimaindramulya



0 comments